Membongkar Kesesatan GAFATAR
Sekarang lagi marak orang hilang yang
dikaitkan dengan salah satu ormas GAFATAR ( Gerakan Fajar Nusantara).
Siapakah sebenarnya asal usul GAFATAR ? Berikut akan diulas asal usulnya
oleh Ustadz Abu Deedat Syihab, anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.
Dalam makalah beliau berjudul “Membongkar Kesesatan Komunitas Millah
Abraham” mengungkapkan keterkaitan Walean dengan aliran sesat lainnya di
Indonesia. Salah satunya dengan Ahmad Mushaddeq yang mendirikan aliran
sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah, cikal bakal GAFATAR. Makalah ini pernah
dimuat di Majalah Tabligh, Oktober 2013.
Dari
penelusuran yang ada, kemudian diketahui bahwa Al-Qiyadah Al-Islamiyah
yang didirikan Ahmad Mushaddeq merupakan sempalan dari NII Komandemen
Wilayah (KW) 9. Setelah 40 hari dan 40 malam Abdus Salam alias Ahmad
Mushaddeq bertapa/ber-tahanuts, kemudian dia mengikrarkan dirinya
sebagai rasul dengan enam program pengabdian.
Kegiatan
tahanuts atau menyepi itu dilakukan Ahmad Mushaddeq di Gunung Bunder,
Kecamatan Pamijahan, Bogor, Jawa Barat. Pada 23 Juli 2006 sekitar pukul
20.00 WIB, Mushaddeq mengumumkan pengangkatan dirinya sebagai rasul di
hadapan 54 pengikutnya setelah bertemu dengan “Waroqoh bin Naufal” yang
tidak lain adalah Robert P. Walean yang membenarkan kerasulannya.
Ajaran
sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah dimulai dengan mengubah dua kalimat
Syahadat yang berbunyi “asyhadu alla illa ha illallah, wa asyhadu anna
Al Masih Al Maw’ud rasulullah.” Artinya, “saya bersaksi tiada illah
selain Allah, dan saya bersaksi Anda Al Masih Al Maw’ud utusan Allah.”
Satu
persatu, pengikut Mushaddeq berjabat tangan, saling menatap mata, dan
mengucapkan ‘syahadat’ ala Mushaddeq. Meski menggunakan sejumlah istilah
agama Islam dalam ajarannya, namun Mushaddeq tidak mengikuti lima rukun
Islam yang dianut umat Islam. Dia menetapkan enam hal yang harus
dilakukan umatnya dengan istilah enam program pengabdian.
Pertama, menjalankan qiyamul lail atau salat malam;
Kedua, tahfidz Qur’an atau menghafal kitab suci Al Quran;
Ketiga, melakukan talwiyah atau dakwah;
Keempat, melakukan taklim atau peningkatan keilmuan tentang Islam;
Kelima, penetapan atau penertiban shoff dalam struktur kepemimpinan di Al Qiyadah; dan
Keenam, melakukan shodaqoh atau bersedekah.
Kedua, tahfidz Qur’an atau menghafal kitab suci Al Quran;
Ketiga, melakukan talwiyah atau dakwah;
Keempat, melakukan taklim atau peningkatan keilmuan tentang Islam;
Kelima, penetapan atau penertiban shoff dalam struktur kepemimpinan di Al Qiyadah; dan
Keenam, melakukan shodaqoh atau bersedekah.
Keenam
program itulah yang dijadikan pegangan bagi pengikut Al-Qiyadah. Dia
tidak mewajibkan umatnya untuk melakukan shalat lima waktu, puasa di
bulan Ramadhan, melaksanakan zakat, dan ibadah haji. Meski bergelar
haji, namun Mushaddeq menampik ibadah ke Tanah Suci itu sebagai
kewajiban, karena haji diartikan hanya sekadar ajang berkumpul. Shalat
dan haji bukan ritual sebagaimana yang dilakukan kaum agamais (maksudnya
kaum muslim). Tidak mewajibkan Shalat Jum’at, tetapi wajib mengkuduskan
hari Sabat, sebagaimana ajaran Kristen Advent yang mewajibkan
mengkuduskan hari Sabat.
Kesesatan Ajaran Al-Qiyadah
Selain itu, mereka membagikan syariat dalam dua macam serta memberlakukan hijrah yakni jahron dan syiron, dan sekarang masih laiyl tidak perlu ritual-ritual ibadah. Berikut rincian kesesatan Al-Qiyadah:
1. Al-Qiyadah mengajarkan, bahwa kiamat bukan kehancuran melainkan kebangkitan; Mengubah syahadat berbunyi “Asyahadu An La Ilaha ‘ill Allah, Wa Asyahadu Anna Masih Al Maw’ud Rasul Allah” (Saya Bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Saya Bersaksi bahwa Masih Al-Maw’ud sebagai Rasul Allah).
2. Nabi Muhammad Saw bukan nabi terakhir melainkan nabi penggenap ajaran Isa Al-Masih, sehingga masih akan ada rasul berikutnya yang menggenapi ajaran Nabi Muhammad Saw. Dalam pengertian Al-Qiyadah Al-Islamiyah, nabi/rasul penerus itu adalah Al-Masih Al-Maw’ud.
3. Menurut Al-Qiyadah, ajaran dari Kristen ataupun Islam itu tidak salah, keduanya merupakan penyempurnaan dari ajaran sebelumnya yang diwariskan Musa melalui Kitab Taurat-Zabur. Jadi, pegangan mereka kitab Al Qur’an disatukan dengan alkitab kristen/yahudi.
4. Pengertian itu membawa kepada prinsip bahwa saat ini merupakan masa Makiyah dan bukan masa Madaniah, sehingga ajaran untuk sholat lima waktu, ajaran untuk berpuasa, ajaran untuk naik haji, ajaran untuk menghormati orangtua, tidak perlu ritual.
5. Al-Qiyadah juga mengajarkan, tugas orangtua kepada anak selesai setelah ibu melahirkan anaknya.
6. Ahmad Moshaddeq mengaku sebagai almasih al-maw’ud, mengaku nabi dan rasul bahkan dirinya mengaku sebagai ruhul qudus yang pernah datang kepada Nabi Muhammad Saw.
Selain itu, mereka membagikan syariat dalam dua macam serta memberlakukan hijrah yakni jahron dan syiron, dan sekarang masih laiyl tidak perlu ritual-ritual ibadah. Berikut rincian kesesatan Al-Qiyadah:
1. Al-Qiyadah mengajarkan, bahwa kiamat bukan kehancuran melainkan kebangkitan; Mengubah syahadat berbunyi “Asyahadu An La Ilaha ‘ill Allah, Wa Asyahadu Anna Masih Al Maw’ud Rasul Allah” (Saya Bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Saya Bersaksi bahwa Masih Al-Maw’ud sebagai Rasul Allah).
2. Nabi Muhammad Saw bukan nabi terakhir melainkan nabi penggenap ajaran Isa Al-Masih, sehingga masih akan ada rasul berikutnya yang menggenapi ajaran Nabi Muhammad Saw. Dalam pengertian Al-Qiyadah Al-Islamiyah, nabi/rasul penerus itu adalah Al-Masih Al-Maw’ud.
3. Menurut Al-Qiyadah, ajaran dari Kristen ataupun Islam itu tidak salah, keduanya merupakan penyempurnaan dari ajaran sebelumnya yang diwariskan Musa melalui Kitab Taurat-Zabur. Jadi, pegangan mereka kitab Al Qur’an disatukan dengan alkitab kristen/yahudi.
4. Pengertian itu membawa kepada prinsip bahwa saat ini merupakan masa Makiyah dan bukan masa Madaniah, sehingga ajaran untuk sholat lima waktu, ajaran untuk berpuasa, ajaran untuk naik haji, ajaran untuk menghormati orangtua, tidak perlu ritual.
5. Al-Qiyadah juga mengajarkan, tugas orangtua kepada anak selesai setelah ibu melahirkan anaknya.
6. Ahmad Moshaddeq mengaku sebagai almasih al-maw’ud, mengaku nabi dan rasul bahkan dirinya mengaku sebagai ruhul qudus yang pernah datang kepada Nabi Muhammad Saw.
Dari
beberapa poin di atas, paham yang dianut nampaknya ada kemiripan dengan
beberapa aliran dan paham sesat yang sudah ada sebelumnya, yaitu
Ahmadiyah Qadian, Lembaga Kerasulan, Inkarussunnah, dan tentu saja NII
KW 9, karena dulunya Mushadeq bersama Syekh Panji Gumilang Pimpinan
Pondok Pesantren Al Zaytun, pada tahun 2000 keluar dan mendirikan
Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang sudah beberapa kali merubah nama untuk
menipu umat Islam.
Al-Qiyadah Al-Islamiyah memiliki organisasi yang terstruktur, dengan jabatan:
RASUL , Pemimpin Tertinggi
Mala’ul Awwal
Mala’ Tsani
Katib, Sekretaris
Wazir, Manajemen
Kisbul Maliyah, Finansial
Kisbul Ummah, Sumberdaya Manusia
Kisbul Difa’, Keamanan/Security
Menjadi 12 sel (sesuai dengan jumlah 12 murid Yesus)
RASUL , Pemimpin Tertinggi
Mala’ul Awwal
Mala’ Tsani
Katib, Sekretaris
Wazir, Manajemen
Kisbul Maliyah, Finansial
Kisbul Ummah, Sumberdaya Manusia
Kisbul Difa’, Keamanan/Security
Menjadi 12 sel (sesuai dengan jumlah 12 murid Yesus)
Sedangkan
tingkatan ada tujuh tingkatan dengan model piramid sesuai struktur
langit. Sesuai dengan surat An-Nahl (lebah), Al-Qiyadah dibentuk
menggunakan sistem-sistem sel yang independen namun sinergi sehingga
membentuk jaringan. Satu sel rusak, maka akan diperbaiki atau digantikan
sel baru, dalam satu sel terdiri atas 2 hingga 6 ra’in (gembala) dimana
satu sel diberi amanat mengatur 40 KK. Sel tersebut nanti mengembangkan
diri hingga Mulk. Dimulai dari tingkat paling bawah
Misbah membawahi 1 – 10 KK
Buruj membawahi 12 Misbah
Siraj membawahi 12 Buruj
Thariq membawahi 12 Siraj
Najm membawahi 12 Thariq
Kawakib membawahi 12 Najm
Mala’ul Al’la membawahi 12 Kawakib
Misbah membawahi 1 – 10 KK
Buruj membawahi 12 Misbah
Siraj membawahi 12 Buruj
Thariq membawahi 12 Siraj
Najm membawahi 12 Thariq
Kawakib membawahi 12 Najm
Mala’ul Al’la membawahi 12 Kawakib
Pada
saat periode Jahran dimulai, Mushaddeq sudah mencapai tingkat Thariq,
yang artinya sudah dibentuk 12 sel yang membawahi 114 sel yang membawahi
1368 sel, berarti jumlah kader aktif (ra’in) ada 7470 orang (belum
termasuk kader pasif/ummah) yang terus bergerak membentuk sel dan
melakukan improvisasi. Jumlah pengikut di sinyalir antara 40,000 hingga
60,000.
Dalam penyebarannya, aliran
ini memiliki 6 fase yaitu sirran (rahasia), jahran (inklusif), hijrah
(berpindah), qital (perang), futuh (kemenangan) dan khilafah (pemimpin).
Menurut internal Al-Qiyadah model fase ini mengambil dari uswah/contoh
dari fase-fase enam tahap penciptaan alam semesta (Kerajaan Allah di
alam aktual), enam tahap penciptaan manusia (dari zigot menjadi bayi),
dan fase perjuangan Nabi Muhammad Saw. Di mana fase-fase tersebut mesti
dijalankan secara sempurna. Pada tahun 2023 (bertepatan dengan 100 tahun
kehancuran Khilafah Islamiyah 1923, istilahnya: masa tidur Uzair)
diproyeksikan bahwa Bangsa Indonesia akan memimpin Khilafah.
“Aku
Al-Masih Al-Maw’ud menjadi syahid Allah bagi kalian, orang-orang yang
mengimaniku, dan aku telah menjelaskan kepada kalian tentang sunnah-Nya
dan rencana-rencana-Nya di dalam hidup dan kehidupan ini sehingga dengan
memahami sunnah dan rencana-rencana-Nya itu kalian dapat berjalan
dengan pasti di bawah bimbingan-Nya.”
“Dan
aku juga memerintahkan kepada katib agar mempersiapkan sebuah acara di
Ummul Qura’ bagi para sahabat untuk menjadi syahid bagi kerasulan
Al-Masih Al-Maw’ud, tetapi katib mengusulkan agar acaranya diadakan di
Gunung Bunder saja, akupun menyetujuinya, di malam yang ketigapuluh
tiga, tiga hari menjelang empat puluh hari aku bertahannuts, kembali aku
bermimpi, di dalam mimpi itu aku sedang dilantik atau diangkat menjadi
rasul Allah disaksikan para sahabat.” (hal 182)
Kisah
di atas dikutip dari buku “Ruhul Qudus yang Turun Kepada Al-Masih
Al-Maw’ud” edisi pertama Februari 2007, diberi kata pengantar tertanggal
Gunung Bunder, 10 Februari 2007 oleh Michael Muhdats.
Buku tersebut merupakan firman Allah atau ruhul qudus yang diturunkan kepada rasul-Nya. Sebagaimana dinyatakan dalam kata pengantarnya, “Buku yang ada di hadapan saudara ini merupakan firman Allah atau ruhul qudus yang diturunkan kepada rasul-Nya.”
Buku tersebut merupakan firman Allah atau ruhul qudus yang diturunkan kepada rasul-Nya. Sebagaimana dinyatakan dalam kata pengantarnya, “Buku yang ada di hadapan saudara ini merupakan firman Allah atau ruhul qudus yang diturunkan kepada rasul-Nya.”
Gerakan
kelompok ini mulai merambah kalangan kampus dan meresahkan masyarakat.
Model gerakannya senyap, tersembunyi, dan berkembang melalui rekruitmen
dengan menggunakan pola sistem sel.
Selain meyakini adanya rasul Allah pada masa sekarang ini, yang mereka sebut Al-Masih Al-Maw’ud, mereka pun berkeyakinan bahwa shalat (dikerjakan) hanya pada waktu malam saja. Tidak ada shalat lima waktu sebagaimana kewajiban yang ditunaikan kaum muslimin umumnya. Mereka pun menganggap musyrik orang yang tidak sepaham dengan mereka.
Selain meyakini adanya rasul Allah pada masa sekarang ini, yang mereka sebut Al-Masih Al-Maw’ud, mereka pun berkeyakinan bahwa shalat (dikerjakan) hanya pada waktu malam saja. Tidak ada shalat lima waktu sebagaimana kewajiban yang ditunaikan kaum muslimin umumnya. Mereka pun menganggap musyrik orang yang tidak sepaham dengan mereka.
Lafazh
syahadatain mereka berbeda dengan yang diucapkan dan diyakini kaum
muslimin. Seperti termuat dalam buku di atas, lafazh syahadatain
kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini berbunyi, “Aku bersaksi bahwa
tiada yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa anda
Al-Masih Al-Maw’ud adalah utusan Allah” (hal 191). Al-Masih Al-Maw’ud
menyatakan bahwa dirinya banyak menerima wahyu dari Allah saat
bertahannuts di Gunung Bunder. Dan kepada para pengikutnya ditekankan
agar bersaksi bahwa semua itu adalah kebenaran yang datang dari Allah
melaui rasul-Nya. (hal 184)
Namun
demikian, apa yang diajarkan oleh kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini,
ternyata tidak semata mengutip ayat-ayat Al Qur’an saja. Mereka juga
mengajarkan juga paham-paham Kristen, bahkan banyak mengutip dan
mendasarkan ajarannya pada Al-Kitab (Injil). Mereka berpemahaman bahwa
ajaran yang dibawa Moses, Yesus, dan Ahmad (Nabi Muhammad) adalah sama
karena memiliki sumber ajaran yang sama pula (dari Allah), bahkan kata
mereka, di dalam Islam ada konsep trinitas sebagaimana dalam ajaran
Kristen.
Demikianlah, mereka mencampuradukkan ajaran. Banyak lagi ajaran-ajaran yang mereka tanamkan kepada para pengikutnya dengan memberikan pemahaman yang menyesatkan. Mereka tidak segan-segan menyatakan, “Sebetulnya ajaran Yesus sama dengan ajaran Islam.”
Demikianlah, mereka mencampuradukkan ajaran. Banyak lagi ajaran-ajaran yang mereka tanamkan kepada para pengikutnya dengan memberikan pemahaman yang menyesatkan. Mereka tidak segan-segan menyatakan, “Sebetulnya ajaran Yesus sama dengan ajaran Islam.”
Dan
wajib mengkuduskan hari Sabat, inilah ajaran kristen Advent yang
disusupkan kepada aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Setelah
difatwakan sesat oleh MUI, kemudian berubah nama menjadi KOMAR
(Komunitas Millah Abraham), dan sekarang berubah menjadi ormas GAFATAR
(Gerakan Fajar Nusantara). Itulah bukti keterlibatan Pendeta Welly alias
Robert P. Walean alias Waroqoh bin Naufal yang mengajarkan Islam Hanif
akan masuk Sorga, padahal itu ajaran Kristen Advent.
Kitab Suci dan Buku Rujukan
Ajarannya yang mencampuradukkan Al Qur’an digabungkan dengan alkitab Kristen tertuang dalam buku-buku yang Abu Deedat miliki dari para korban aliran sesat tersebut sebagai berikut: “Al Masih Al Ma’wud dan Ruhul Kudus”; “Ruhul Qudus yang Turun kepada Al Masih Al Ma’wud”; “Menyingkap Tabir Pemisahan Yesus Kristus dari Sejarah”; “Berita dari Al Masih Al Ma’wud”; “Keutamaan Enam Program Pengabdian”; “Eksistensi dan Konsekuensi Sebuah Kesaksian; Al Qiyadah Al Islamiyah”; “Memahami & Menyikapi Tradisi Tuhan”. “Kewajiban Menghormati Hari Ketujuh (Sabath)”, “Ruhul Qudus Eksistensi & Esensi Al-Qur’an”, “ Memahami Makna Kerajaan Allah”, “ TEOLOGI ABRAHAM ‘Membangun Kesatuan Iman Yahudi, Kristen dan Islam’” dan beberapa buku “Tafsir wa takwil”.
Menurut
Abu Deedat Syihab, pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah mencapai 60 ribu
orang di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain, Jakarta, Lampung,
Makassar, Sumbar, Aceh, dll. Kebanyakan dari pengikutnya adalah pelajar
dan mahasiswa, sekitar 60 persen.
Ajarannya yang mencampuradukkan Al Qur’an digabungkan dengan alkitab Kristen tertuang dalam buku-buku yang Abu Deedat miliki dari para korban aliran sesat tersebut sebagai berikut: “Al Masih Al Ma’wud dan Ruhul Kudus”; “Ruhul Qudus yang Turun kepada Al Masih Al Ma’wud”; “Menyingkap Tabir Pemisahan Yesus Kristus dari Sejarah”; “Berita dari Al Masih Al Ma’wud”; “Keutamaan Enam Program Pengabdian”; “Eksistensi dan Konsekuensi Sebuah Kesaksian; Al Qiyadah Al Islamiyah”; “Memahami & Menyikapi Tradisi Tuhan”. “Kewajiban Menghormati Hari Ketujuh (Sabath)”, “Ruhul Qudus Eksistensi & Esensi Al-Qur’an”, “ Memahami Makna Kerajaan Allah”, “ TEOLOGI ABRAHAM ‘Membangun Kesatuan Iman Yahudi, Kristen dan Islam’” dan beberapa buku “Tafsir wa takwil”.